Recent Posts

Senin, 21 Maret 2011

..: seminggu ini :..

okey ..
seminggu ini banyak kejadian aneh --"

1. dari salah satu dosenku bilang . "anaknya anang ya?"
hal hasil si wiwik dan si aciikkkkkkk ladaassssssssss

2. ketemu sama nenek pakek paju merah bates PAHA ,, terus
pakek lejing warna kulit "ASTAGFIRULLAH"

*tuh nenek bisa buat NGUCAP...oekokeokeoekoek

3. Pas di depan salon di salah satu mall dipalembang ,,
aku langsung dipeluk sama cewekkk,, yang jaga disalon tersebut,,,,anjrittttttttttttttttttt tuh cewek lesbongg apaa
maen2 pelukk.." kok tambah item skrng?" zzzzzz

*setelah berpikir lama ternyata temen SD ku

4. ngeliat ehem ehem baju kuning.. aku nga liat sih..
yang liat si wiwik dan acii..

*tambah ladasssss mereka ber2 --"

next day :

gue dipaksa jadi pacar orang anjrittttt satu hari aja loo..
nga lebihhhhh...YOUR SICK PERSON!!!

next day :

hari ini tepatnya :

ngerjain tugas #GILOGILOAN ...

astagaaaaa,,,,kerammm kelekk


*khusus kimia ntar aku update deh tugas2 disemester 4 ini :)


#seminggu ini

bakalan sibuk.. ada arisan dirumah --"

Minggu, 27 Februari 2011

..: 2 minggu yang lalu :..

tepatnya 2 minggu masuk kuliah kemarin..

Senengnya, pertama kali masuk kuliah semester genap ini (4)
dengan liburan kemarin kurasa cukup, untuk memulai kuliah

dengan senyuman lebar..smile smile cengengesan :) :) :)

okey ,
mata kuliah dimulai.
aku hanya membawa binder tanpa isi nya!
ANJRITTT.. langsung mulai kuliah ni,,
langsung ada tugas,,

barang-barang yang minjem
1. pena minjem
2.kertas mintak
3. kartu kuliah (minjem sama kak raka, karena kehabisan, usut dari usut karena aku belum mengambil dan kehabisan "berapa ribu sih anak2 yang kuliah sampe bisa kehabisan" --")

tapi sekarang sudah lengkap kok"
ngak ada barang pinjeman ataupun kreditan :P

smga kuliah semester ini ada perubahan :)

good luck chemeng 09 ext

Sabtu, 22 Januari 2011

lanjutan

kalo soal percintaan : kandas juga , tapi dia orang baik kok.. nga kayak mantan aku kemarin! hussss gosippppppp...

kuliah : ancur leburr..
salah satu dosenku pak budi ..siap2 yu semester 5 dan smster 6 kena serangan struk.. ewwww... untuk nga di tabrak truk...

persahabatan : no comment deh kalo status2 fb atau twitter gue mah masa bodo'. kepercayaan harus ditegak kan! dengan kekuatan bulan akan menghukum mu! aku sangat teropsesi sama sailormoon.. cozz mereka prajurit bulan yang pakek rok pendek2..sexy abiss...

semesteran : HOT FEELING ..( perasaan panas ) mungkin AC diruangan kampus gue mati ...nunggak bayar rekening kalii..

tikungan : nga mungkirin.karena GUE NORMAL nga HOMO yang seperti di gosipkan.. yaaa teman - teman aja buat saat ini no problem

okey gue mau siap2 packing yang nga kelar2 buat besokk

next tunggu coretan liburan gue

..: semester 3 ini :..

Semester tiga ini banyak hal yang aku lakukan :

yang pasti nya awal-awal smester 3 aku tergila-gila dengan korea kpop gitulah..
dan aku sangat tertarik sama yang namanya RUBIK,,
ntah ada berapa koleksi rubik di kamarku..

awalnya,, ada salah satu temanku yang hobi banget maen rubik sebut saja namanya KEzonk ,dia yang memperkenalkan aku dan ngirimin video bokep ke fb ku,,, BUkaaaannn video rubik maksudku..
rubik pertamaku dengan harga 5000 perak yang aku beli di Jm Ps.
Kerasssss dan lepas melepas maklum murah..
setelah mengumpulkan duit akhirnya beli juga rubik yang agak sedikit mahal,, di ptc mall . rubiknya mini dan Bisa nyala dalam gelap masi sepupu peranak'an senter.
iseng dari iseng ada temanku yang juga hobi maen rubik nmanya randy dia ngirim tag join rubik di pim.. LUpa aku namanya ..cyber apalah ya..
singkat cerita ada kakak tingkat tambang 07 andi yang mengajariku teknik dasar.terima kasih kakak. walaupun aku agak merasa bego dan autisku kumat pas dia lagi ngajarin,...

hobi ku yang ke2 adalah boneka BARBIE.
ntah kesambet apaan . demen bgt sama boneka satu itu.
apa masa kecil gue kurang bahagia.. ( anak tetangga )
gue diem2 beli di jm di deket ip bersama risa temen gue.
eeeeeee pas didepan mall... ketahuan sama si wiwik dan beelee..
dah .. AKu nga ADA KEMALUAN lagi,,,terpaksa mengakui..
udah sempet ngeles tapi karena gue jarang masuk les yaaa... begituah..

smster 3 ini aku merayakan ultah aku yang 19 thn dirumah..
SIAL tuh salon MENORR abissss...
padahal aku nga mau... mama tuh maksa!!!

pegel .. ntar lagi ya

..: Rencana liburan untuk besok :) :..

Liburan semseter(3) ganjil 2011

kami memutuskan :

bella
risa
ayik
aci
dean
agung
eriko
aziz
noi

untuk pergi ke pagaralam.
dengan perdebatan yang panjang dan memusingkan otak, terutama yang paling direpotkan adalah si bella.

hal yang dipermasalahkan :

1.DUIT ( nga mungkin pergi kalo nga ada ini NGEGEMBEL)
2. Ijin dari orang tua ( maaf kan aku dean buat kamu kesel )
3. penginapan ( 3 hari 2 malam di hotel dan villa 1 malam)
4. transportasi ( naik bis PP dan sewa mobil untuk disana)
5. tempat yang akan dituju ( air terjun , pegunungan dan tempat2 lain pokoknya yang ada disana)
6. pulang lagi kepalembang apakah masi ada duit?????

akhirnya setelah sidang paripurna yang cukup panjang dan ada yang nga jadi ikut besok tanggal 23 januari 2011 kami berangkat :)
semoga perjalanan kami nga macet karean Si Komo lewat atau ada banci yang ngotot minta duit ke kami2 yang polos ini. :)

Minggu, 31 Oktober 2010

.. : tugas makalah Industri pabrik pulp dan kertas :..

PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Kebutuhan kertas semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Pertumbuhan industri pulp dan kertas di Indonesia pun sungguh memperlihatkan angka yang menakjubkan. Data APKI (Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia) menunjukkan bahwa antara tahun 1987-1996 jumlah ekspor kertas Indonesia selalu lebih besar dari jumlah impornya, dengan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 26,11%. Namun, fenomena ini memberikan fakta bahwa tingkat penggunaan bahan baku, yang dalam hal ini adalah kayu, sangat besar. Hal ini mengakibatkan ketersediaan kayu yang semakin terbatas dan semakin parahnya degradasi yang terjadi di dalam hutan. Salah satu usaha dalam mengefisiensikan pemanfaatan kayu dalam penggunaannya sebagai bahan baku pulp dan kertas adalah menggantikan peranan kayu dengan bahan lain yang potensial.
Ampas tebu mengandung serat selulosa yang dapat dibuat pulp. Potensi bagase di Indonesia cukup besar. Menurut data statistik Indonesia tahun 2002, luas tanaman tebu di Inonesia sebesar 395.399,44 ha, yang tersebar di Pulau Sumatera seluas 99.383,8 ha, Pulai Jawa seluas 265.671,82 ha, Pulau Kalimantan seluas 13.970,42 ha, dan Pulau Sulawesi seluas 16.373,4 ha. Diperkirakan setiap ha tanaman tebu mampu menghasilkan100 ton bagasse. Maka potensi bagasse nasional yang dapat tersedia dari total luas tanaman tebu mencapai 39.539.944 ton per tahun. Lampung memiliki pabrik pengolahan tebu menjadi gula yang menghasilkan ampas tebu sebagai limbah pengolahan, namun menurut pengamatan bagasse yang dihasilkan belum dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga keberadaannya yang menggunung menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan.
Selain itu, proses dalam industri pulp dan kertas kebanyakan adalah menggunakan proses kimia, yaitu proses soda, sulfat (kraft), sulfit, dan organosolv yang ternyata bahan-bahan kimia yang digunakan dalam proses tersebut menimbulkan masalah pencemaran lingkungan yang cukup serius. Adanya langkah inovatif dengan menggunakan limbah non-kayu sebagai bahan baku pulp dan penggunaan reaksi asam dalam prosesnya diharapkan dapat menjadi upaya penyelesaian terhadap permasalahan-permasalahan lingkungan yang ditimbulkan akibat adanya industri pulp dan kertas.



Pulp dan Kertas
Kertas biasa didefinisikan sebagai felted sheet yang dibentuk oleh sekat yang berasal dari suspensi air serat-serat (Smook,1992). Perkembangan produksi kertas secara umum disesuaikan dengan definisi ini kecuali bahwa kebanyakan produksi juga menggunakan aditif non-fiber. Metode pengeringan saat ini digunakan dalam menghasilkan produk kertas secara khusus.
Pulp adalah hasil pemisahan serat dari bahan baku berserat (kayu maupun non kayu)melalui berbagai proses pembuatannya ( mekanis, semikimia, kimia). Pulp terdiri dari serat - serat (selulosa dan hemiselulosa) sebagai bahan baku kertas (Anonim, 2010). Menurut Smook (1992), pulp adalah serat yang merupakan bahan baku dalam pembuatan kertas. Serat pulp selalu berasal dari tumbuhan. Sedangkan untuk hewan, mineral atau serat sintetis biasanya digunakan untuk penggunaan khusus.
Proses pembuatan pulp diantaranya dilakukan dengan proses mekanis, kimia, dan semikimia. Prinsip pembuatan pulp secara mekanis yakni dengan pengikisan dengan menggunakan alat seperti gerinda. Proses mekanis yang biasa dikenal diantaranya PGW (Pine Groundwood), SGW (Semi Groundwood). Proses semi kimia merupakan kombinasi antara mekanis dan kimia. Yang termasuk ke dalam proses ini diantaranya CTMP (Chemi Thermo Mechanical Pulping) dengan memanfaatkan suhu untuk mendegradasi lignin sehingga diperoleh pulp yang memiliki rendemen yang lebih rendah dengan kualitas yang lebih baik daripada pulp dengan proses mekanis.
Proses pembuatan pulp dengan proses kimia dikenal dengan sebutan proses kraft. Disebut kraft karena pulp yang dihasilkan dari proses ini memiliki kekuatan lebih tinggi daripada proses mekanis dan semikimia, akan tetapi rendemen yang dihasilkan lebih kecil diantara keduanya karena komponen yang terdegradasi lebih banyak (lignin, ekstraktif, dan mineral).
Selulosa merupakan komponen penting dari kayu yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan kertas. Selulosa didefinisikan sebagai karbohidrat yang dalam porsi besar mengandung lapisan dinding sebagian besar sel tumbuhan. Selulosa terdapat pada semua tanaman dari pohon bertingkat tinggi hingga organisme primitif seperti rumput laut, flagelata, dan bakteri.
Lignin merupakan bagian terbesar dari selulosa, penyerapan sinar (warna) oleh pulp terutama berkaitan dengan komponen ligninnya. Untuk mencapai derajat keputihan yang tinggi, lignin tersisa harus dihilangkan dari pulp, dibebaskan dari gugus yang menyerap sinar kuat sesempurna mungkin. Lignin akan mengikat serat selulosa yang kecil menjadi serat-serat panjang. Lignin akan mengikat serat selulosa yang kecil menjadi serat-serat panjang. Lignin tidak akan larut dalam larutan asam tetapi mudah larut dalam alkali encer dan mudah diserang oleh zat-zat oksida lainnya
BAHAN BAKU
Bahan baku yang digunakan untuk membuat kertas ialah bahan-bahan yang mengandung banyak selulosa, seperti bambu, kayu, jerami, merang, dan lain-lain.
PROSES PEMBUATAN

Kita semua tentu sering menggunakan kertas untuk berbagai kepentingan, baik untuk menulis, membaca, atau untuk membungkus gorengan barangkali.
Kertas yang sering kita gunaka itu biasanya terbuat dari kayu yang diolah dengan teknologi modern sehingga sampai ketangan kita. Untuk lebih mengenal kertas yang kita gunakan mari kita pelajari proses pembuatan kertas.
Proses Pembuatan Kertas (pulp)
1. Kayu diambil dari hutan produksi kemudian dipotong - potong atau lebih dikenal dengan log. log disimpan ditempat penampungan beberapa bulan sebelum diolah dengan tujuan untuk melunakan log dan menjaga kesinambungan bahan baku
2. Kayu dibuang kulitnya dengan mesin atau dikenal dengan istilah De - Barker
3. Kayu dipotong - potong menjadi ukuran kecil (chip) dengan mesin chipping. Chip yang sesuai ukuran diambil dan yang tidak sesuai diproses ulang.
4. Chip dimasak didalam digester untuk memisahkan serat kayu (bahan yang diunakan untuk membuat kertas) dengan lignin. proses pemasakan ini ada dua macam yaitu Chemical Pulping Process dan Mechanical pulping Process. Hasil dari digester ini disebut pulp (bubur kertas). Pulp ini yang diolah menjadi kertas pada mesin kertas (paper machine).
Proses Pembuatan Kertas (Paper machine)
Sebelum masuk keareal paper machine pulp diolah dulu pada bagian stock preparation. bagian ini berfung si untuk meramu bahan baku seperti: menambahkan pewarna untuk kertas (dye), menambahkan zat retensi, menambahkan filler (untuk mengisi pori - pori diantara serat kayu), dlln. Bahan yang keluar dari bagian ini di sebut stock 9campuran pulp, bahan kimia dan air)
Dari stock preparation sebelum masuk ke headbox dibersihkan dulu dengan alat yang disebut cleaner. Dari cleaner stock masuk ke headbox. headbox berfungsi untuk membentuk lembaran kertas (membentuk formasi) diatas fourdinier table.

Fourdinier berfungsi untuk membuang air yang berada dalam stock (dewatering). Hasil yang keluar disebut dengan web (kertas basah). Kadar padatnya sekitar 20 %.

Press part berfungsi untuk membuang air dari web sehingga kadar padatnya mencapai 50 %. Hasilnya masuk ke bagaian pengering (dryer). Cara kerja press part ini adalah. Kertas masuk diantara dua roll yang berputar. Satu roll bagian atas di beri tekanan sehingga air keluar dari web. Bagian ini dapat menghemat energi, karena kerja dryer tidak terlalu berat (air sudah dibuang 30 %).

Dryer berfungsi untuk mengeringkan web sehingga kadar airnya mencapai 6 %. Hasilnya digulung di pop reel sehingga berbentuk gulungan kertas yang besar (paper roll). Paper roll ini yang dipotong - potong sesuai ukuran dan dikirim ke konsumen.

Pembuatan kertas dari bahan baku dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu:
1. Pembuatan pulp
2. Pembuatan kertas dari pulp
Pulp, di samping dapat digunakan untuk membuat kertas, dapat juga digunakan untuk membuat rayon (rayon adalah selulosa dalam bentuk serat-serat).
Ada 3 macam proses pembuatan pulp, yaitu:
1. Proses mekanis
2. Proses semi-kimia
3. Proses kimia
Pada proses mekanis tidak digunakan bahan-bahan kimia. Bahan baku digiling dengan mesin sehingga selulosa terpisah dari zat-zat lain.
Pada proses semi-kimia dilakukan seperti proses mekanis, tetapi dibantu dengan bahan kimia untuk lebih melunakkan, sehingga serat-serat selulosa mudah terpisah dan tidak rusak.
Pada proses kimia bahan baku dimasak dengan bahan kimia tertentu untuk mengllilangkan zat lain yang tidak perlu dari serat-serat selulosa. Dengan proses ini, dapat diperoleh selulosa yang murni dan tidak rusak.

a. Metoda proses basa Termasuk di sini adalah:
- proses soda
- proses sulfat
b. Metoda proses asam Yang termasuk proses asam adalah proses sulfit
Ada 2 metoda pembuatan pulp dengan proses kimia, yaitu:

Proses Basa
Bahan baku yang telah dipotong kecil-kecil dengan mesin pemotong, dimasukkan dalam sebuah bejana yang disebut “digester.”
Dalam larutan tersebut dimasukkan larutan pemasak:
- NaOH 7%, untuk proses soda
- NaOH, Na2S dan Na2CO3 untuk proses sulfat
Pemasakan ini berguna untuk memisahkan selulosa dari zat-zat yang lain.
Reaksi sebenarnya rumit sekali, tetapi secara sederhana dapat ditulis:
Larutan pemasak
Kayu ———————————> pulp (selulosa) + senyawa-senyawa alkohol + senyawa-senyawa asam + merkaptan + zat-zat pengotor lainnya.Kemudian campuran yang selesai dimasak tersebut dimasukkan ke dalam mesin pemisah pulp dan disaring. Pulp kasar dapat digunakan untuk membuat karton dan pulp halus yang warnanya masih coklat harus dikelantang (diputihkan/dipucatkan). Pemucatan dilakukan dengan menggunakan Kaporit atau Natrium hipoklorit. Perlu diperhatikan bahwa, bahan-bahan kimia yang sudah terpakai tidak dibuang, tetapi diolah kembali untuk dipakai lagi. Hal ini berarti menghemat biaya dan mencegah pencemaran lingkungan
Reaksi kimia yang penting dalam pengolahan kembali sisa larutan tersebut adalah :
Na2SO4 + 2 C ———————————> Na2S + 2 CO2
Na2CO3 + Ca(OH)2 ———————————> 2 NaOH + CaCO3
Proses Asam
Secara garis besar, proses sulfit dilakukan melalui tahap-tahap yang sama dengan proses basa. tetapi larutan yang digunakan adalah:
SO2, Ca(HSO3)2 dan Mg(HS03)2
Pembuatan Kertas
Pulp yang sudah siap, diolah dengan bahan-bahan penolong seperti perekat damar, kaolin, talk, gips, kalsium karbonat, tawas aluminium, kertas bekas, zat warna dan lain-lain, untuk kemudian diproses menjadi kertas, melalui mesin pembentuk lembaran kertas, mesin pengeras dan mesin pengering.
Catatan:
1. Zat-zat tersebut di atas dipakai dalam jumlah kecil sekali, dan bila berlebihan berbahaya bagi kesehatan.
2. Ada zat pemanis yang dapat menimbulkan kanker pada hewan-hewan percobaan, sehingga di beberapa negara dilarang.
3. Umumnya zat-zat tersebut di atas adalah sintetis.

CONTOH PRODUK YANG BISA DIHASILKAN

TAS KERTAS
Negara Asal : Indonesia
Harga : Sesuai ukuran permintaan
Cara Pembayaran : Tunai
Kemas & Pengiriman : Batik, Baju, Souvenir, Hadiah,
Keterangan: PRUDUK INI BERBAHAN KERTAS, DI GUNAKAN SEBAGAI PEMBUNGKUS BAJU, BATIK, SOUVENIR, OLEH-OLEH DLL.
BISA MENAMPILKAN NAMA PERUSAHAAN ANDA. JUGA DI JADIKAN SEBAGAI ALAT PROMOSI PERUSAHAAN .



Sabtu, 16 Oktober 2010

..: kimia analisa PENGARAH LABORATORIUM UMUM :..

20.3f Labu Volumetri
Labu volumetri yang lazim dipakai ditunjukan dalam gambar 20.6. Labu itu akan terisi cairan sebanyak volume yang tercantum, bila dasar meniskus berimpit dengan garis melingar yang dietsakan. Jika larutan itu dituang dari dalam labu, volume yang tertuang akan sedikit berkurang dibandinkan dengan volume yang tercantum, dan memang labu volimetri tak pernah digunakan untuk mengukur larutan yang akan dipindahkan kewadah-wadah lain. Labu itu digunakan bila kita ingin membuat larutan dalam volume yang eksak.
Bila larutan dibuat dalam labu volimetri, maka larutan haru stercampur dengan baik. Ini dilaksanakan dengan menjungkirbalikan dan mengocok labu itu berulang-ulang. Beberapa analis mempunyai kebiasaan mencampurkan larutan itu baik-baik sebelum volume akhirnya sesuai, dan mencanpurnya kembali setelah labu itu diisi pelarut sampai tanda; lebih mudah mengguncang larutan bila leher labu yang sempit dan panjang itu belum terisi cairan.
Larutan tidak boleh dipanaskan dalam labu volimetri, sekalipin labu itu terbuat dari kaca Pyrex. Ada kemungkinan labu itu tidak akan kembali ke volume aslinya yang eksak setelah didinginkan.
Kebanyakan labu volimetri mempunyai sumbat kaca asah atau polietilena, tudung ulir (screw caps) atau tudung cungkil plastik (snap caps). Larutan basa akan menyebabkan sumbat kaca asah macet sehingga tidak boleh disimpan dalam labu dengan sumbat semacam itu.
Bila suatu zat padat akan dilarutka dalam labu volimetri, volume akhirnya tidak boleh disesuaikan sebelum semua zat terlarut. Dalam kasus-kasus tertentu pelarut zat padat itu akan menyebabkan perubahan volume yang mencolok, dan ini hendaknya dibiarkan terjadi sebelum dilakukan penyesuaian volume.





gambar 20.6 Labu Volumetri

20.3g. Corong dan Kertas saring
Dalam prosedur grametri, konstituen yang diinginkan seringkali dipisahkan dalam bentuk endapan. Endapan ini harus dikumpulkan, dicuci agar bebas dari kontaminasi yang ada dalam larutan induk, kekeringkan, dan ditimbang, baik sebagaimana adanya atau setelah diubah ke suatu bentuk lain. Penyaringan merupakan cara lazim untuk mengumpulkan endapan, dan pencucian sering dilaksanakan dalam penyaringan itu. Penyaringan dilakukan dengan corong dan kertas saring atau dengan krus (crucuble) saring. Faktor penting dalam pemilihan salah satu di antara kedua adalah temperatur dimana endapan itu harus dipanaskan untuk mengubahnya ke bentuk penimbangan yang diinginkan, sekaligus kemudahan mereduksi endapan itu.
Serat selulosa (dari) kertas saring cenderung mempertahankan kelembanannya, dan selembar kertas saring membungkus suatu endapan tidak akan dapat dikeringkandan ditimbang langsung dengan ketepatan tinggi. Maka kertas itu perlu dibakar habis pada temperatur tinggi. Selama pembakaran itu kondisi reduksi yang disebabkan oleh karbon dan karbon monoksida tersebut akan menguat disekitar endapan. Jadi, endapan yang tidak dapat dipanaskan pada temperatur tinngi atau mudah direduksi biasanya tidak disaring dengan menggunakan kertas saring; melainkan krus saring yang tipe akan dibahas dalam subbab berikut.
Bagaimana beberapa teknik yang diberikan disini akan untuk segala macam penyaringan.
Terdapat berbagai tipe kertas saring. Untuk perkerjaan kuantitatif, hanya kertas dengan kualitas tak berabu sajalah yang digunakan. Kertas ini telah diolah dengan asam klorida dan asam fluorida selama pembuatannya. Jadi kadar bahan organiknya rendah dan meninggalkan sedikit sekali abu bila dibakar. (angka yang lazim untuk abu dari kertas bundar berdiameter 11 cm adalah 0,13mg). Bobot abu biasanya diabaikan; untuk perkerjaan yang sangat akurat, dapat dilakukan koreksi, karena bobot abu itu agak konstan untuk kertas-kertas dalam suatu kelompok (batch) tertentu.
Dalam kelompok tak-berabu, terdapat berbagai kertas dapat porositas yang berbeda-beda. Sifat dasar endapan yang akan digunakan dikumpul itu menentukan pilihan berbeda-beda. Sifat dasar endapan yang akan dikumpulkan itu menentukan pilihan kertas. Kertas ”fast” (cepat) digunakan untuk endapan mirip gelatin seperti besi, (III) oksida berair untuk endapan yang terbuat kristalin kasar seperti magnesium amonium fosfat. Banyak endapan yang terbuat dari kristal-kristal kecil (seperti barium sulfat) akan menerobos kertas ”cepat” ini. Kertas ”medium” membutuhkan waktu penyaringan yang lebih lama, namun mampu menahan partikel yang lebih kecil dan paling luas kemungkinan penggunakan. Untuk endapan sangat halus seperti silika digunakan kertas ”slow” (perlahan). Penyaringan yang paling memuaskan agak memakan waktu, dan para analisa harus menggunakan kertas tercepat yang masih memenuhi asas dalam menahan endapan.
Biasanya kertas saring dilipat sedemikian rupa sehingga menyisakan suatu ruang antara kertas dan corong, kecuali pada bagian atas kertas, yang harus pas menempel pada kaca. Prosedur itu ditunjukan dalam gambar 20.7. Lipatan yang kedua hendaknya dimundurkan sejauh kira-kira inci. Kemudian kertas itu dibuka sehingga membentuk kerucut. Sudut lipatan luar dari sisi yang tebal disobek agar kertas itu lebih mudah dipaskan pada corong dan mencegah kemungkinan udara dapat mengalir kebawah lewat lipatan. Sesudah menaruh kerucut kertas ini dalam corong, tuangkan air suling keatasnya. Gunakan jari yang bersih untuk meratakan kertas dan mengendapkan tempelan kertas pada kaca dibagian atas. Jari hendaknya di gerakan dengan lembut agar kertas basah yang rapuh itu tidak sobek. Udara tidak akan memasuki saluran cairan bila kertas saring itu dipaskan dengan benar, dan karena itu terbuang cairan dari dalam batang corong akan menghasilkan penyedotan lembut yang mempermudah penyaringan. Filter yang tak berfungsi dengan baik dapat menunda suatu analisis untuk waktu yang cukup lama; lebih baik filter semacam itu dibuang atau diganti dengan yang baru.
Kertas saring lingkarang tersedia dalam berbagai diameter. Ukuran yang akan dugunakan tergantug pada kuantitas endapan, bukan volume larutan yang akan disaring. Hendaknya dihindari penggunaan ukuran kertas yang lebih besar dari perluasan; kertas dan corong itu hendaknya sesuai ukurannya. Yang penting adalah kertas tidak melampaui pinggiran corong, tetapi berjarak 1 atau 2 cm dari pinggir corong. Endapan hendaknya sepertiga kerucut kertas dan jangan lebih dari setengahnya.
Teknik Menyaring dan Menyaring endapan.
Umumnya pencucian itu dilakukan sejalan dengan tahap penyaringan (gambar 20.8), endapan itu dipisahkan dari larutan induk dalam bentuk kompak. Setelah berada dalam filter, endapan dapat dicuci;

Gambar 20.7 Melipat kertas saring
Dengan mengalirkan larutan pencuci lewar filter. Namun, seringkali cara ini sering kurang efisien; larutan pencuci itu tidak menembus massa kompak endapan secara seragam. Biasanya lebih disukai mencuci endapan dengan dekantasi, sekurang-kurangnya dalam kasusu dimana endapan dengan cepat mengendap dari dalam suspensi. Cairan induk jernih diatasny dengan seksama dituangkan lewat filter, sedangkan sebanyak mungkin endapan ditahan dalam beker. Kemudian endapan diaduk dengan larutan pencuci dalam beker, dan cucian didekantasi lewat filter. Pencucian ini dapat dilakukan sesering mungkin kita, sampai akhirnya endapan tersebut tidak dibiarkan mengendap melainkan dituangkan ke dalam filter bersama denganlarutan pencuci. Residu endapan yang tertinggal dalam beker biasanya dipindahkan ke dalam filter dengan semprotan langsung dari dalam botol pencuci, pada kasa, jejak-jejak terakhirnya dapat disapu dengan secarik kertas saring, yang bersama endapan ditambah kepada filter dalam corong untuk nantinya dibakar.
Batang corong hendaknya cukup menjorok ke dalam bejana penampung filtrat, dan ujung batang itu menempel pada dinding dalam bejana untuk mencegah tercipratnya filtrat. Semua pemindahan ke dalam corong hendaknya dilakukan dengan bantuan batang pengaduk, dan harus dijaga baik-baik agar larutan tak tececer setetes pun. Filtrat harus diperiksa apakah ada kekeruhan; kadang-kadang sedikit endapan menembus kertas saring pada awal penyaringan; namun endapan ini dapat ditangkap dengan menyaring ulang filtrat pada filter itu juga setelah pori-porinya agak tersumbat oleh endapan yang tertampung.
Pemanggangan Endapan bersama kertas saring.
Setelah cairan menetes keluar sebanyak mungkin dari dalam kertas saring selama masih berasa dalam corong, bagian atasa kertas sering dilipat sehingga endapan itu terbungkus seluruhnya. Berhati-hatilah agar kertas yang bash dan rapuh itu tidak sobek ketika bungkusan dari corong ke krus yang telah disiapkan (lihat Pembahasan mengenai krus dibawah ini).lebih baik menangani;



Gambar 20.8 Teknik Penyaringan dengan kertas saring


Kertas itu pada sisi yang rangkap tiga dari pada sisi lain. Langkah-langkah umum berikutnya dalam memanggang bahan dalam krus itu adalah sebagai berikut:
1. Pengeringan Kertas dan Endapan. Hal ini dapat dilakukan dalam sebuah oven pada temperatur 100oC – 125oC jika penjadwalan menginzinkan mengesampingkan eksperimen itu pada tahap ini. Jika pemanggangan harus segera dilaksanakan, pengeringan dapat dilakukan dengan suatu pembakaran. Krus yang tertutup itu diletakkan dengan posisi miring di atas segitiga silika atau ditanah liat, dan dibawah krus itu diletakkan nyala kecil kira-kira di tengah-tengah bagian krus. Hindari pemansan yang terlalu kuat; nyala itu tidak boleh menyentuh krus, dan pengeringan hendaknya berlangsung lambat.
2. Penghangusan Kertas. (lihat gambar 20.10). Setalah endapan dan kertas itu kering seluruhnya, tutup krus dibuka lebih lebar agar udara bisa masuk , dan pemanasan ditingkatkan untuk mengarangkan kertas itu. Nyala sedikit diperbesar dan digeser ke belakang agara terletak dibawah alas krus. Kertas itu hendaknya terbakar dengan berasap, namun tak boleh terbakar dengan menyala. Jika kertas itu tiba-tiba menyala, krus harus segera ditutup untuk mematikan nyala. Partikel-partikel endapan dapat tersapu dari krus oleh gerakan hebat dari gas yang lolos; selain itu pada kondisi ini karbon kertas dapat mereduksi endapan tertentu yang dapat ditangani dengan aman dalam kertas saring pada kondisi yang kurang bagus. Jagalah agar gas pereduksi dari nyala pembakaran tidak boleh masuk ke dalam krus melalui bagian bawah tutup itu. Selama pengarangan, bahan organik mirip ter akan tersuling dari dalam kertas dan terkumpul pada tutup krus. Ter ini akan terbakar habis nanti pada temperatur yang lebih tinggi.

Gambar 20.9 Penggunaan botol pencuci dalam memindahkan endapan.
3. Pembakaran Habis Karbon dari dalam Kertas. Setelah kertas itu menjadi arang dan hanya menyala sudah lewat,nyala diperbesar sampai alas krus menjadi merah. Ini hendaknya dilakukan bertahap. Residu karbon dan terorganik akan habis tebakar selama tahap pemanggangan ini. Pemanasan ini diteruskan sampai pembakaran itu selesai, yang dibuktikan dengan hilangnya bahan berwarna gelap. Ada baiknya krus itu selalu diputar-putar sehingga semua bagiannya dipanaskan dengan merata. Kadang-kadang kita perlu memperhatikan sisi bawah tutup untuk menghilangkan ter yang terkumpul disitu.
4. Tahap Akhir Pemanggangan. Untuk mengakhiri pemanggangan, krus itu diletakan mengadah dan tutupnya disingkirkan agar udara dapat bebas masuk dan krus itu dipanaskan pada temperatur yang direkomendasikan untuk endapan tertentu itu. Pembakaran tirrill akan memanaskan krus porselen tertutup samapi sekitar 700oC, dan pembakaran Meker akan menghasilakan temperatur kira-kira 100oC lebih tinggi. Dengan krus platinum dapat diperoleh

Gambar 20.10 Pemanggangan endapan
temperatur kira-kira 400o C lebih tinggi. Pemanggangan diteruskan sampai krus itu mencapai bobot yang konstan, yakni samapi selisih dari dua kali penimbangan yang diselingi suatu periode pemanasan diantaranya kurang dari 0,5 mg.
20.3h. krus Saring
Endapan tertentu tidak dapat ditangani dengan kertas saring, entah karena terlalu mudah mereduksi atau karena tidak dapat dipanasi sampai temperatur yang memadai untuk membakar habis kertasnya. Endapan semacam itu disaring dengan krus saring, yang beberapa macamnya diperlihatkan dalam gamabar 20.11. Krus saring Gooch, yang dewasa ini jarang digunakan, adalah krus porselen dengan sejumlah barang kecil pada dasarnya, lapisan tebal asbes diletakan diatas dasar didalam krus ketika krus disiapkan untuk dipakai, dan lapisan medium penyaringnya. Lapisan itu disiapkan dengan membentuk suatu suspensi dalam air, serat asbes yang dipotong dan diolah secara khusus, dengan menuang suspensi itu ke dalam krus sambil menyedotnya. Krus Gooch dapat dipanasi pada temperatur tinggi dan memadai untuk beragam jenis endapan.


Krus Kaca Masir (disinter)
Untuk endapan yang tidak perlu dipanaskan di atas 500oC atau sekitar itu, dapat digunakan krus kaca masir atau kaca bubuk (fritted). Krus ini terbuat dari kaca, dan dasarnya terbuat dari kaca asah masir yang dilekatkan dengan badan krus melalui perlelehan. Krus-krus dipasangkan pada pemegangannya masing-masing (seperti dalam gambar 20.11), dan dilakukan penyedotan. Krus kaca masir tersedia dengan aneka porositas untuk menangani berbagai macam endapan. Dalam deret Pyrex (dari) Corning Glass Co., terdapat tiga porositas yang ditandai dengan kasar, medium, dan halus (huruf C,M, dan F untuk coarse,

Gambar 20.11 Krus Penyaring (a) Gooch, (b) Porselen, (c) kaca bubuk, bentuk tinggi dan rendah, (d) Standar Sargent, (e) Standar Bailey, (f) Standar Walter, dan (g) penyaringan dengan penyedotan, digunakan standar Walter.
Medium dan fine, tampak didekat bibir krus kaca itu), dan kebanyakan dalam penggunaan analitis. Meskipun temperatur sampai 500oC dikatakan aman, krus kaca masir harus dipanaskan secara bertahap, jika temperatut setinggi itu ingin tercapai tanpa kerusakan. Harus selalu diingat bahwa basa kuat merusak krus, terutama cakram masir penyaring. Krus dibersihkan dengan pelarut yang tepat untuk kontaminasi khusus yang dihadapi. Karena tiga alasan krus kaca masir tak pernah dipanaskan langsung diatas nyala. Pertama, krus tersebut mungkin akan pecah, kedua, karbon, yang sukar sekali dibersikan, dapat menembus ke endapan lewat dasar yang berpori-pori. Jika harus digunakan suatu pembakaran untuk mencapai temperatur yang diinginkan, maka krus masir itu ditaruh di dalam krus porselen biasa.
Untuk endapan yang harus dibakar pada temperatur tinggi, dapat digunakan krus porselen porous (cawan krus). Ada krus porselen dengan bagian dasar yang kotor dan tanpa dilapisi cawan ini berlubang, sehingga endapan dapat disaring dengan penyedotan. Sebagai krus kaca masir, maka krus porselen berlubang ini tidak boleh dipanaskan pada api langsung. Endapan dipanaskan pada krus porselen yang biasa apabila dilakukan suatu pemanasan. Lubang pada bagian dasar cawan mudah rusak apabila terkena basa kuat.

20.3i. Krus untuk Pemanggangan Endapan dalam kertas saring.
Ada dua macam krus yang paling sering digunakan untuk permanggangan endapan dalam kertas saring; platium dan porselen. Biasanya platinum lebih disukai, tetapi karena mahal, jenis ini jarang sekali dugunakan di laboratorium. Platium adalah logam yang tidak reaktif (inert) dan tahan terhadap reagensia yang merusak porselen. Platinum dapat mencapai temperatur pemansan yang lebih tinggi dari pada porselen. Krus porselen dapat dipanaskan sampai temperatur tinggi (kira-kira 1200oC dalam oven), dan bobotnya hanya sedikit berubah walaupun pemanasan kuat dan berkepanjangan. Porselen akan rusak oleh zat alkali dan asam hidrofluorida, tetapi tahan terhadap banyak reagensia lain.
Bobot konstan perlu dijelaskan lebih seksama. Bobot suatu endapan dalam krus biasanya diperoleh dari selisih. Penanganan krus kosong sama dengan krus berisi endapan, kemudian dipanggang. Setelah itu didinginkan, ditimbang, dipanaskan ulang dan ditimbang kembali. Jika kedua timbangan tercabut sesuai (katakan dalam 0,2-0,5 mg), krus telah dipanggang sampai ”bobot konstan”. Jika tidak, prosedur diulang sampai didapatkan hasil yang sesuai. Kemudian endapan ditambahkan, dan krus dipanggang pada temperatur yang sama sampai diperoleh, bobot konstan. Selisi dari kedua penimbangan menunjukan bobot endapan.

20.3j. Instrumen Khusus.
Beberapa tahun yang lalu, ahli kimia analisis hanya menggunakan peralatan yang diberikan di atas, plus neraca analitis, untuk hampir semua penetapan. Perubahan yang mencengangkan telah terjadi, dan sekarang sampai selain pH-meter,kolorimeter, spektrofometer, dan polorograf masih ada lagi instrumen rumit dan diteliti lain yang dapat dijumpai dikebanyakan laboratorium analitis. Pedoman penggunaan dan pemeliharaan perlu dikhususkan. Dan paling banyak diperoleh dari buletin pembuatannya dan dari petunjuk pribadi oleh orang yang berpengalaman. Disini hanya kita masukkan beberapa catatan umum mengisi pembahasan peralatan analitik.
Aturan terpenting adalah jangan sekali-kali membiarkan alat anda di-jamah oleh orang yag tidak mengetahui petunjuk pemakaian yang benar dan pencegahan perukakannya. Beberapa instrumen berisi komponen yang rapuh dan dapat mengalami kerusakan akibat penanganan yang tidak benar dan kadang-kadang kalibrasi yang dikerjakan dengan seksama masih dapat rusak akibat salah penekann tombol.
Aturan lain yang harus selalu diingat adalah bahwa suatu instrumen tak boleh digunakan oleh seorang yang belum memahami keunggulan dan keterbatasan instrumen tersebut untuk tugasa yang dihadapi, dan tidak memiliki perkiran yang tepat akan kendala data yang diperoleh, dan tidak dapat memahami arti penting dari pengukuran instrumental dan menerapkannya dengan kecerdasan. Pengukuran yang tidak bermutu dilakukan setiap hari oleh orang awam yang belagak sebagai ahli kimia. Siapapun dapat belajar menekan tombol dan membaca galvanometer, namun menjamin bahwa suatu pengukuran telah dilakukan berdasarkan sistem terbaik mungkin harus datang dari seorang ahli kimia yang terlatih.

20.4
KALIBRASI ALAT KACA VOLUMETRI
20.4a Sifat-sifat Alat Kaca Volumetri
Tabel 20.3 menunjukan beberapa nilai toleransi untuk alat kaca volumetri yang ditetapkan oleh National Institute of Standards anad Technology”. Dapat dicatat bahwa alat kaca yang memenuhi spesifikasi ini memadai untuk semua terkecuali perkerjaan yang paling menuntut ketepatan, yaitu perkerjaan di laboratorium analitis. Alat kaca semacam itu, yang dinyatakan oleh produsennya sesuai dengan standart NIST dapat dibeli. Dengan adanya biaya, dapat diperoleh alat kaca yang benar-benar di uji di NIST. Namun karena faktor biaya, jarang laboratorium analitis yang melengkapi kaca yang memenuhi spesifikasi toleransi NIST. Tersedia alat kaca yang lebih murah yang oleh produsennya dinyatakan memenuhi toleransi kira-kira dua kali toleransi NIST, namun alat kaca ini mungkin tidak disediakan mahasiswa.
Oleh karena kebanyakan kerja analitis mencangkup larutan nerair, maka umunya air digunakan sebagai bahan pembanding dalam kalibrasi alat kaca volumetri.Asa umum dalam kalibrasi adalah penetapan bobot air yang dikandung atau dihantarkan oleh sepotong tertentu alat kaca itu. Maka dengan diketahui rapatan air, volume yang benar dapat dicari.
Satuan volume yang biasa digunakandalam kimia analistik adalah liter dan mililiter. Dulu liter didefinisikan sebagai volume yang ditempati oleh 1 kg air pada temperatur dengan rapatan maksimum (sekitar 4oC) pada tekanan 1 atm. Konferensi umum keduabelas mengenai bobot dan ukuran, yang diadakan di Paris pada tahun 1964,menghapus definisi ini sebagai gantinya menetapkan liter sebagai desimeter kubik. Definisi baru ini menghapus devinisi sebelumnya sebesar 28 ppm antara mililiter dan sentimeter kubik (dulu 1mL = 1,000028 cc) dan sekarang kedua satuan ini setara.

The National Institute of Standards and Technology yang telah menetapkan 200C sebagai temperatur kalibrasi alat kaca. Karena temperatur laboratorium bisanya tidak akan tepat 20oC, sebenarnya alat kaca yang harus dikoreksi bila akan digunkan pada temperatur lain karena mungkin terjadi kesalahan yang disebabkan oleh pemuaian (atau pengerutan) baik dari bejana kaca itu sendiri maupun dari larutan yang dikandungnya. Koefisien muai kaca cukup kecil sehingga koreksi yang dituntut untuk faktor ini dapat diabaikan untuk kebanyakan perkerjaan (koreksi ini mencapai orde bagian per 10.000 untuk perubahan 50C). Perubahan volume larutan itu sendiri lebih penting, namun perubahan itu masi bisa diabaikan dalam banyak hal jika temperatur tidak jauh menyimpang dari 20oC (perubahan volume itu berorde 1 bagian per 100 untuk jangkauan 5oC).
Seperti catatan diatas, data kalibrasi ditetapkan dengan mengkonversi bobot air menjadi volume lewat rapatan. Pada Bab 21 mengenai pembahasan lebih lengkap dari daya efek apung.Dilain pihak, kita dapat mengubah rapatan hampa menjadi rapatan diudara dengan batu timbangan baja menggunakan rapatan ini langsung dengan hasil penimbangan kita yang dilakukan diudara. Nilai dalam Tabel 20.4, yang merupakan kebalikan dari rapatan yang disesuaikan ini, dapat langsung digunakan oleh mahasiswa tanpa memperhitungkan efek daya apung.

20.4b Metode Kalibrasi
Terdapat penekanan umum kalibrasi alat kaca volumetri yang biasanya digunakan dan mahasiswa harus mengenalnya dengan baik.
1. Metode pertama, yang dikenal sebagai Kalibrasi-kalibrasi langsung mutlak, didasarkan seperti yang di ikhtisarkan di atas. Volume air yang dihantarkan oleh suatu buret atau pipet, atau terkadang dalam sebuah labu volimetri, diperoleh langsung dari bobot air dan kerapatannya.
2. Alat kaca volumetri kadang-kadang dikalibrasi dengan membandingkannya terhadap bejana lain yang telah dikalibrasi langsung. Kita dapat merujuk ini sebagai kalibrasi-kalibrasi langsung tak mutlak, atau kalibrasi dengan pembandingan. Metode ini sangat cocok bila alat kaca yang akan dikalibrasi banyak, dan cukup tepat semua pemakaian biasa, selama bejana pembanding itu sendiri telah dikalibrasi dengan tepat.
3. Kadang-kadang kita hanya perlu mengetahui hubungan antara dua alat kaca tanpa mengetahui volume mutlak masing-masing. Situasi ini terjadi, misalnya sewaktu mengambil satu porsi alikuot dari suatu larutan. Andaikata kita ingin mentitrasi sperlima dari suatu sampel. Zat itu dapat diarutkan, diolah dengan tepat sebagai persiapan tirtrasi, dan diencerkan ke volume dalam labu volimetri 250 mL. Kemudian digunakan pipet 50 mL untuk mengambil alikuot itu untuk dititrasi. Untuk perhitungan-perhitungan dalam analisi ini kita tidak perlu mengetahui volume eksak darai seperlima volume tabung. Metode yang digunakan untuk kalibrasi relatif macam ini semata-mata melibatkan pengosongan pipet lima kali ke dalam labu dan menandai tinggi meniskus pada labu.

20.5
PENCATATAN DATA LABORATORIUM
Terdapat tiga persyaratan utama untuk mencatat data yang diperoleh dilaboratorium analitik. Ini dapat dinyatakan dengan singkat sebagai berikut. Catatan itu hendaknya (1)lengkap, (2) dapat dipahami oleh ahli kimia yang berkompeten, (3) mudah ditemukan bila diminta. Persyaratan ini dapat dipenuhi dengan mematuhi aturan-aturan berikut:
1. Mahasiswa hendaknya memilki buku catatan yang dijilid untuk mencatat data laboratoriumnya, perhitungan, hasil dan semua bahan lai yang penting bagi analisi suatu sampel. Halaman buku catatan hendaknya diberi nomor, dan dibuatkan daftar isi sehingga semua ekperimen dapat ditemukan dengan cepat.
2. Semua data yang diperoleh dilaboratorium hendaknya dicatat langsung dalam buku catatan pada waktu perkerjaan dilakukan. Yang dilarang adalah mencatat data kertas tersendiri denan pikiran akan menyalinnya kemudian ke dalam buku catatan. Walaupun kerapian mungkin agak dipencegahan hilangnya data dan kesalahan dalam menyalinnya tetap lebih penting daripada ketidak rapian itu.
3. Entri hendaknya dicatat dengan tinta. Jika terjadi kekeliruan dan nilai tercatat itu dibatalkan, jangan dihapus, melainkan dicoret agar masih terbaca. Bubuhkan pula catatan dalam buku tersebut,mengapa nilai itu dicoret.
4. Data dalam buku catatan hendaknya teraturdan bersistem. Ini menguntungkan bagi mahasiswa karena akan mudah menemukan kekliruan dalam perhitungan analitis; dengan demikian mahasiswa terhindar dari pengulangan seluruh perhitungan untuk memperoleh hasil yang memuaskan. Untuk mempermudah pemaparan data teratur, mahasiswa harus merencanakan bagaimana cara mencatat terbaik sebelum suatu eksperimen yang benar-benar dimulai. Yang sangat membantu, tatalah sebelumnya sebuah tabel yang berisi data eksperimen,kalkulasi sehingga hasil akhirnya dapat dimasukan secara sistematis.
5. Aturan-aturan mengenai angka-angka signifikan (lihat Bab 2) harus dipatuhi dalam proses pencatatan data.



















Tabel 20.5 menunjukan suatu contoh catatan laboratorium yang memuaskan untuk suatu analisi Volumetri biasa. Halaman sebaliknya yang dapat digunakan untuk perhitungan aritmetik dan bahan lain yang tidak cocok untuk dimasukan dalam tabel. Mahasiswa hendaknya mengikuti apa yang disarankan oleh asisten. Ada yang lebih suka mahasiswa meringkas hasil-hasilnya pada suatu kartu berukuran 3in. X 5.in. Kira-kira seperti yang ditunjukan dalam tabel 20.6 yang lainnya lagi mungkin meminta laporan berbentuk printout komputer.